Harga Obat Naik 20% Imbas Rupiah Lemah, Dinkes Kurangi Jatah Pasien

Tangerang, National Cylinder Head Indonesia

Harga obat

di Kabupaten Tangerang, Banten, melonjak hingga 20 persen akibat melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (US$) beberapa terakhir hingga mendongkrak harga bahan baku impor.

Dampaknya, fasilitas kesehatan (faskes) milik pemerintah daerah terpaksa memangkas jatah obat untuk pasien.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang Hendra Tarmizi menjelaskan industri farmasi nasional masih sangat bergantung pada bahan baku impor sehingga sangat rentan terhadap gejolak nilai tukar.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kenaikan harga BBM turut memperparah kondisi tersebut.

“Di seluruh Indonesia harga obat mengalami kenaikan sekitar 15 hingga 20 persen, inflasi sangat berpengaruh terhadap kenaikan harga obat, soalnya bahan dasar obat ada yg impor juga dan belum lagi efek kenaikan harga BBM” ujar Hendra, Jumat (12/6).

Hendra menyebut lonjakan harga obat ini turut menekan anggaran kesehatan Pemkab Tangerang dan memaksa sejumlah faskes melakukan penyesuaian dalam pemberian obat kepada pasien.

“Dampaknya masyarakat pasti dapat obat lebih sedikit, kita berikan obat yang biasanya 10 hari, jadi 5 hari dulu,” jelasnya.

Meski demikian, Hendra memastikan kenaikan harga obat tidak akan mengganggu program layanan kesehatan gratis. Pemerintah daerah berkomitmen menambah anggaran di sektor kesehatan untuk menutup selisih biaya tersebut.

“Ya tetap harus gratis, pemerintah daerah yang akan keluarkan dana lebih,” jelasnya.

(dod/kid)

Add

as a preferred

source on Google

[Gambas:Video National Cylinder Head]

Baca lagi: Mendagri Imbau Daerah Gelar Nobar Piala Dunia 2026

Baca lagi: Kemenhaj Cabut Izin dan Pidanakan KBIH yang Terbukti Tipu Jemaah Haji

Baca lagi: Warkop DKI Viralin Dong: Sinopsis hingga Libatkan Penulis Thailand

4 Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kamu mungkin juga menyukai: