
Yogyakarta, National Cylinder Head Indonesia
—
Teror api misterius di rumah Mutfiana alias
Fia
, Seyegan, Sleman,
DIY
, belum juga mereda.
Kebakaran
berulang masih terus terjadi hingga Sabtu (5/6) pagi ini.
Berdasarkan laporan National Cylinder Head Indonesia TV, Fia menghitung sejak pertama kali kejadian dua pekan lalu, api sudah sebanyak 106 kali muncul. Setidaknya, 65 titik api terpetakan di kediamannya.
Fia dan sekeluarga terpaksa mengungsi, sementara tim dari Detasemen Gegana Satbrimob Polda DIY, para pakar multidisiplin asal UGM dan UPN ‘Veteran’ Yogyakarta menginvestigasi fenomena kemunculan api spontan (
spontaneous ignition
) ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lelah Awasi Titik Api
Fia mengaku psikisnya mulai tertekan setelah berhari-hari diliputi rasa was-was karena rumahnya di Seyegan, Sleman, DIY yang dilanda fenomena api misterius pemicu kebakaran berulang ini.
Fia dan keluarga telah mengungsi di bangunan ruko sebelah utara kediamannya. Namun, ia harus tetap mengawasi kondisi rumahnya. Pasalnya, api di rumahnya bisa muncul sewaktu-waktu dan jika dibiarkan maka si jago merah bakal membesar.
Fia dan keluarga pun jadi maksimal cuma tidur 3 jam sehari lantaran harus membagi waktu giliran menjaga rumah ditemani regu relawan.
“Ya iya lah (tertekan). Tensi naik udah pasti. Begadang terus, kurang tidur, kurang makan, gizi enggak teratur, vitamin enggak masuk gitu loh. Buah, biasanya ada buah, enggak jadi enggak makan buah begitu. Pasti itu bakal apa, terganggu ya. Enggak nafsu (makan) lagi kan,” ungkap Fia ditemui di Kantor Kecamatan Seyegan, Sleman, DIY, Kamis (4/6).
Ini belum termasuk beban pikiran dari estimasi nilai kerugian yang dialami Fia sekeluarga akibat kejadian ini. Hitung-hitungan kasarnya mereka sudah rugi sebanyak Rp70 juta dari barang-barang yang terbakar hingga bea bongkar septic tank.
Fia beberapa waktu lalu membongkar septic tank di rumahnya guna mengetahui pemicu dari fenomena ini yang salah satunya disinyalir disebabkan oleh gas metana (CH4).
Hanya saja, nilai estimasi kerugian sebesar itu juga belum termasuk boncos akibat usaha pemotogan ayam miliknya yang seret sejak kejadian api muncul.
Diduga Dipicu Gas hidrogen dan Fosfin dari Limbah Organik
Sementara itu, Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik UGM menyebut fenomena kebakaran berulang yang melanda kediaman Fia dalah kasus khusus.
Penyematan kasus khusus ini berkaitan dengan kesimpulan sementara dari tim pakar UGM yang mensinyalir bahwa munculnya api berasosiasi dengan temuan gas hidrogen (H2) di lokasi.
Gas hidrogen ini diduga kuat berasal dari proses fermentasi limbah organik pemotongan ayam. Sebagai informasi, keluarga Fia memang membuka usaha pemotongan ayam di rumah mereka.
Dosen sekaligus Asisten Profesor di Departemen Teknik Geologi UGM Sarju Winardi yang juga tergabung PKPE mengatakan secara terus terang timnya belum memiliki jawaban komprehensif mengapa fenomena semacam ini tidak terjadi di tempat limbah pemotongan ayam lainnya.
Asumsi timnya sejauh ini, gas hidrogen ini kemungkinan lahir dari limbah organik berupa campuran kotoran, sisa air dan darah, bulu-bulu ayam yang juga mengindikasikan sumber senyawa lain yang lebih mudah terbakar pada suhu kamar, yakni gas fosfin (PH3).
Apalagi, tempat penampungan limbah organik pemotongan ayam ini sudah bertahan selama 16 tahun dan kabarnya sesekali dibersihkan.
“Kalau model pengelolaan limbah tempat lain kami belum komparasikan ada kasus yang sama. Kalau yang kami dapatkan bahwa di tempat lain tidak terjadi malah. Artinya, menurut kami sekali lagi seperti pertanyaan sebelumnya ada kasus khusus,” kata Sarju ditemui di Kantor Kecamatan Seyegan, Sleman, DIY, Kamis (4/6).
“Jadi kalau bicara komparasi, justru komparasinya menunjukkan bahwa ini kasus khusus, tidak dijumpai di tempat lain,” sambungnya.
Namun, Sarju bilang, fenomena serupa secara ilmiah dapat ditemui di daerah bekas lokasi pembuangan sampah yang dulunya menampung banyak material organisme, macam hewan mati, tulang, termasuk daerah kuburan. Fenomena gas fosfin memicu gas hidrogen terbakar bisa terjadi di area dengan konfigurasi seperti ini.
Mengapa Baru Kejadian Sekarang?
Sarju menerangkan, terbentuknya gas hidrogen dari limbah organik ini tergantung aktivitas mikrobakteri anaerob, yakni Clostridium. Semakin banyak jumlahnya, maka semakin cepat kemampuan produksinya.
“Sebenarnya pembentukannya tidak dalam waktu yang sangat lama ya, apalagi ini sudah 16 tahun ya (penampungan limbah), waktu yang sangat memungkinkan,” ucapnya saat ditemui di Kantor Kecamatan Seyegan, Sleman, DIY, Kamis (4/6).
Asumsi Sarju, gas hidrogen ini baru keluar sekarang kemungkinan karena aktivitas mikroorganisme sudah optimal. Kapasitas gas hidrogen disinyalir sudah mencapai puncaknya, sehingga akhirnya merembet keluar dan melayang di udara.
“Ini sudah sampai puncaknya, sehingga gas cukup banyak dan bisa keluar. Keluarnya menurut kami juga tidak sporadis di satu tempat dan terus-menerus. Jadi menurut kami ini ada aktivitas bakteri yang cukup peak,” ujarnya.
Bersambung ke halaman berikutnya…
Potensi Bahaya Gas Hidrogen
Tim UGM juga menganalisa bahwa potensi bahaya gas hidrogen ini tergantung dengan volumenya.
Sarju dan tim menganalisa, karakteristik gas hidrogen di rumah Fia keluar secara lambat, volumenya tidak besar dan sporadis titik kemunculannya atau berpindah-pindah.
“Jumlahnya kami duga tidak besar karena hari ini kami lakukan pemboran dangkal sekitar satu meteran, kami masukan alat tidak terdeteksi anomali yang sangat tinggi sekali. Jadi rilisnya pelan dan jumlahnya diperkirakan tidak terlalu besar,” paparnya.
Menurut Sarju, tipe rembesan gas di rumah Fia juga tidak keluar dari permukaan tanah secara kontinyu layaknya Api Abadi Mrapen atau Kayangan Api di Jawa Timur.
Gas di rumah Fia terakumulasi dan melayang di udara hingga terjebak benda-benda seperti baju atau sofa. Tekanan atau kuantitas gas minim ini pula yang menyulitkan tim melakukan proses sampling, kecuali menggunakan alat detektor untuk mendeteksi anomali.
“Kalau gas hidrogen itu dalam jumlah yang banyak, dengan saturasi di udara yang tinggi itu sangat berbahaya. Mudah terbakar dan di kita menimbulkan efek,” ujar Sarju.
“Tapi kalau sekarang bahayanya adalah ketika dia nempel dalam jumlah tertentu, ada pemicu, ya listrik statis, bahkan gesekan orang, atau teori kami (di lokasi) ada gas fosfin ya, itu bisa memicu (api). Jadi kalau ditanya bahaya adalah ketika ada barang yang mudah terbakar,” sambungnya.
Tim PKPE sejauh ini berasumsi jika gas hidrogen baru terlokalisasi di area rumah Fia saja. Belum ada data yang kuat bahwa gas keluar di tempat lain.
[Gambas:Photo National Cylinder Head]
UPN Analisa Secara Geologi
Sementara itu, tim peneliti UPN Veteran Yogyakarta yang dipimpin Guru Besar dan Dekan Fakultas Teknologi Mineral dan Energi (FTME) Basuki Rahmat, melakukan investigasi untuk kemungkinan sumber gas dari aspek geologi. Mereka telah menelusuri dan menemukan adanya batuan induk di area sungai yang jaraknya sekitar 300 meter dari rumah Fia.
Mereka mencurigai gas metana (CH4) dan gas hidrogen yang berasal dari endapan batuan lanau berwarna gelap yang kaya material organik.
Tim peneliti UPN juga sudah melakukan penelitian geomagnetik guna mencari jenis batuan ultrabasa dan vulkanik yang bisa membentuk gas hidrogen.
Survei geolistrik di sekitar rumah Fia juga telah diterapkan demi memetakan lapisan batuan di bawah tanah dan mendeteksi struktur atau rongga yang menjadi jalur keluarnya gas pemicu api.
Add
as a preferred
source on Google
Potensi Bahaya Gas Hidrogen hingga Analisa Geologi
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN:
1
2
Baca lagi: Review Film: Hokum
Baca lagi: Cerita Kegilaan Pasukan Khusus China yang Misterius
Baca lagi: Pakar Ungkap Bahaya Hidrogen yang Diduga Picu Api di Rumah Fia


